Kenapa BPJS Kesehatan Terus Merugi? - Buyampicillin.site Info Unik

Sabtu, 15 Februari 2020

Kenapa BPJS Kesehatan Terus Merugi?



Kenapa BPJS Kesehatan Rugi Terus? Ada Apa?   -  Komisi IX yang mengurusi Kesehatan menanggapi pernyataan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang menyebut pelayanan berlebihan dari dokter sebagai salah satu penyebab defisit BPJS Kesehatan hingga triliunan rupiah.
Anggota Komisi IX DPR Fraksi Demokrat yaitu Anwar Hafid mengatakan bahwa Komisi IX belum sampai menyayat dugaan pelayanan berlebihan dari dokter sebagai penyebab defisit BPJS Kesehatan. DPR lebih menyoroti data peserta BPJS yang belum dimutakhirkan dan juga macetnya pembayaran iuran dari peserta sehingga menunggak sebagai penyebab membengkaknya biaya BPJS Kesehatan, tambah Anwar. 


Selain itu terkait ancaman tunggakan BPJS Kesehatan, Pemkot Balikpapan berencana mengkaji ulang rencana penyaluran dana penerima bantuan iuran BPJS Kesehatan bagi peserta kelas 3. Ini karena banyaknya peserta BPJS Kesehatan yang mengajukan turun kelas ke kelas 3 karena iuran BPJS Kesehatan dinaikkan.


Sejauh ini data Badan Pusat Statistik menyatakan jumlah penerima bantuan iuran sejumlah 18 ribu jiwa dengan anggaran yang harus dikeluarkan sebesar 70 miliar rupiah per tahunnya. 
Tunggakan atau defisit BPJS Kesehatan diperkirakan mencapai 32 triliun rupiah pada tahun 2019 lalu. Han itu membuat menteri kesehatan Terawan Agus Putanto mulai membedah factor mana yang menjadi penyebab dari defisitnya anggaran BPJS Kesehatan. Mendengar ucapan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto Ikatan Dokter Indonesia atau IDI tidak membantah adanya kemungkinan sejumlah dokter yang bertindak tidak sesuai aturan. Namun Ikatan Dokter Indonesia meminta agar persoalan ini tidak digeneralisasi dan dijadikan alasan membengkaknya anggaran BPJS Kesehatan. Ini juga karena Rumah Sakit berperan dalam proses verifikasi tindakan medis dokter.  




Sementara itu ketua bidang advokasi BPJS Kesehatan Timbul Siregar melihat adanya persoalan kompleks di balik defisitnya anggaran BPJS Kesehatan, antara lain tidak seimbangnya penerimaan dan pengeluaran BPJS (penerimaan lebih rendah dari pengeluaran) penerimaan dalam sisi ini adalah dari segi iuran, penggelapan akibat kurangnya pengawasan, serta pengendalian biaya. 


Sebelumnya Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebut deficit BPJS Kesehatan terjadi karena pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien terlalu berlebihan. Menteri Kesehatan mencontohkan hal ini terlihat dari klaim operasi caesar yang diklaim sangat  tinggi. Menteri Kesehatan pun meminta para dokter untuk lebih mengutamakan pelayanan kesehatan mendasar.
Hutang BPJS Kesehatan terus naik tajam terhitung sejak Oktober tahun 2017 Menteri Kesehatan saat itu mengatakan hutang BPJS Kesehatan sebanyak Rp 1 triliun. Kemudian di Oktober tahun 2018 direktur utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris menyebut hutang mencapai RP 7,2 triliun. Dan hingga Oktober tahun 2019 hutang BPJS Kesehatan mencapai RP 21,16 triliun rupiah. Direktur utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris mengkhawatirkan hutang BPJS Kesehatan ini akan mencapai RP 32 triliun hingga tutup tahun 2019. Defisit anggaran BPJS Kesehatan terus bertambah dalam 3 tahun terakhir. 


Tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang belum memenuhi tanggung jawabnya sebagai peserta BPJS Kesehatan, yaitu membayar iuran tepat waktu setiap bulannya. Banyak dari masyarakat yang hanya memanfaatkan fasilitas dari BPJS Kesehatan saja, namun mereka mengabaikan iuran yang telah ditetapkan. Apalagi dengan dinaikkannya iuran BPJS Kesehatan menambah kepatuhan masyarakat untuk membayar iurannya setiap bulan. Banyak dari mereka beralasan tidak mampu membayar iuran sehingga mereka mengunggahnya. Untuk menghindari hal tersebut berlanjut terus menerus maka pemerintah menerapkan sanksi dan denda bagi yang menunggak iuran BPJS Kesehatan.


Akankah pemerintah mampu menghadirkan solusi agar kesehatan masyarakat tetap terjamin tanpa harus membuat Negara merugi?

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda